capture-2019-12-31-11-38-33-5e0ad8edd541df32a622cbc3

Merayu Ikan di Laut Semarang

capture-2019-12-31-11-37-28-5e0ad992097f3677d24891e2Pagi itu jarum jam menunjukkan pukul 4.30, alarm berdering keras, sayup-sayup terdengar suara Iqamah dari mushola terdekat. Terperanjat saya. Terbangun dengan rasa bersalah dan segera bergegas bangun.

Pagi ini saya sudah berjanji bertemu dengan kawan lama untuk memancing di laut Semarang.

“Jangan terlambat ya mas, saya tunggu di masjid Kauman Johar, kita sholat subuh di sana lalu berangkat”, kata pak Haji Muh Karyono satu hari sebelumnya berpesan dengan penuh penekanan.

Malam hari saya kedatangan seorang tamu dari luar kota, saking asyiknya hampir jam 02.00 dinihari ia baru pamit pulang.

Setengah gontai saya menuju ke kamar dan langsung terlelap tanpa memperdulikan istri saya yang sudah dulu rebahan.

“Duh terlambat nih,” saya berguman sendiri.

Tiba-tiba ponsel berdering, seseorang di seberang bertanya, “sampai di mana?”

“Otw pak, baru sampai peterongan,”, jawab saya berbohong untuk meyakinkan bahwa saya sudah berangkat.

Segera setelah itu saya membersihkan badan ala kadarnya, sholat subuh, dan lupa kalau istri saya sudah menyeduh kopi.

Buru-buru saya keluar rumah menerobos pagi yang masih gelap dan berharap kawan saya masih bersedia menunggu.

Di perjalanan, saya mendapat telpon lagi, dan bertanya, “posisi di mana pak, saya sudah di dermaga pos VII”, bunyi suara di seberang.

Motor segera saya titipkan di parkiran pasar Peterongan, dan saya segera mencari alternatif angkutan lain untuk menuju lokasi. Sambil mengotak-atik gadget, saya berharap ada driver online yang mau menyambut order saya, sampai beberapa menit tak juga dapat driver. Bahkan taksi ofline yang biasanya berseliweran, pagi ini tak ada satupun yang lewat.

Akhirnya lewatlah sebuah angkot, saya minta antar ke titik ini, dan saya kasih ongkos beberapa lembaran biru. Segera, penumpang lain diturunkan sembari memohon maaf dan angkot mengantar saya sampai Pos VII pelabuhan Semarang

“Terlambat 5 menit lagi saja, sampean tak tinggal”, kata pak Haji. Mesin kapal sudah dinyalakan dan segera melepas tali pengait.
Dan perjalanan memancing penuh perjuangan ini dimulai.

Ratusan kapal dan perahu kecil berjejer di bibir dermaga. Sepertinya ini adalah perahu-perahu yang biasanya untuk disewakan kepada para pemancing.

Angin bertiup sepoi, semakin ke tengah, kapal-kapal besar terlihat diam dalam satu titik. Dari bendera yang terpampang di atas dek, diketahui itu adalah kapal Jepang, China, Amerika, Belanda, bahkan kapal Korea. Sebagian besar adalah kapal logistik yang mengangkut barang eksport import.
Terlihat sebuah kapal besar seperti menerima muatan dari kapal-kapal kecil, apa ya yang mereka angkut?
Sepanjang perjalanan, kami juga bertemu dengan perahu-perahu nelayan lokal yang mau menepi. Dan juga rombongan kapal pemancing yang lain.

Perjalanan sekitar 20 menit, ada sebuah tanggul, sepertinya ini tanggul pemecah ombak yang dibuat beberapa ratus meter dari bibir pantai . Kami menjulurkan kail di sini mencari ikan ikan kecil untuk umpan memancing.

Beberapa jenis ikan memang menyukai ikan-ikan kecil, tapi ada juga menyukai umpan hidup seperti udang. Satu box strefoam berisi ratusan udang sebesar jari kelingking siap untuk mancing hari ini.
Setelah dirasa cukup, kapal makin ke tengah, melaju dengan kecepatan sedang, memecah ombak, terkadang harus sedikit jumping dan bergoyang kiri kanan.

“itu tempatnya sudah terlihat”, kata pak Haji.Terlihat sebuah penanda bergoyang mengikuti irama ombak.

Semacam bendera kuning dari plastik yang ditancapkan ke pelampung dan ada tali yang dikaitkan di dasar laut, maka penanda itu tidak bergerak ke mana-mana.

“Ini rumpon”, tambah pak Haji. “Di bawah sana sedalam ratusan meter teronggok sebuah kapal pengangkut genting dari Semarang, mengalami kerusakan mesin dan tenggelam di dasar samodera. Ongkos pengambilan kapal yang diperkirakan lebih besar dari harga kapal dan barang yang diangkut. Maka kapal itu dibiarkan begitu saja.

Tapi posisinya berada jauh di area lalulintas kapal besar, jadi lokasi ini aman.

Sesaat pak Haji mengeluarkan alat perangnya. Sebuah tempat peralatan pancing yang panjang ia buka, joran berbagai ukuran dan ia keluarkan. Satu persatu joran dipasang perlengkapan. Kail, gulungan senar, pelampung , dan tentu saja pemberat.

Satu persatu joran dijulurkan ke laut, kail dilempar dengan jarak tertentu dan ditunggu reaksinya. Seorang teman melihat pelampungnya bergoyang, pertanda ada sesuatu di bawah sana. Sontak ia menggulung senar pelan-pelan sambil memainkan joran tarik ulur. Dan akhirnya seekor ikan kerapu seberat 3 kg menjadi strike pertama .

Yang lain saling menyusul, ikan kakap merah, ikan trunul, kakap putih, dan beberapa ekor ikan tenggiri menghiasi gentong tempat ikan kami.
Waktu sudah menunjukkan pukul 14 00, kelelahan mulai terlihat dari semua peserta mancing. Kami kembali ke darat dan berencana lain waktu akan mancing lagi di tempat lain.

Artikel di ambil dari : https://www.kompasiana.com/masnawir7439/5e0ada84097f362fa009b632/merayu-ikan-di-laut-semarang?page=all#section1